Tampilkan postingan dengan label Responding Paper. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Responding Paper. Tampilkan semua postingan

Kamis, 06 Juni 2013

Notulensi Nichiren Sho Shu


Notulensi ‘ Nichiren Shoshu ‘
Oleh: Ika Wahyu Susanti/ PA/ 4/ B

·         Jepang merupakan jalur terakhir penyebaran agama Buddha di jalur utara, yang sudah mengalami tahapan Buddha yang berkembang. Buddha Mahayana yang berkembang saat itu telah mengalami pengaruh lokal Tao dan Shinto.
·         Nichiren adalah seorang putera dari nelayan sederhana di kota Kominato—sebuah desa nelayan di Provinsi Awa (Chiba-ken). Ia dilahirkan pada 16 Februari 1222 dengan nama Nichiro atau sumber lain mengatakan Zennichiro atau Zennichi maro.
·         Nichiren muda memiliki dua pertanyaan mendasar  yaitu:

Notulensi Zen Buddhisme


Notulensi “ Zen Buddhisme
Oleh: Ika Wahyu Susanti/ PA/ 4/ B


Ø  Zen, merupakan ajaran tentang meditasi yang menuntut untuk dipraktikkan bukan dibicarakan atau dikaji dalam ceramah-ceramah keagamaan. Maksudnya adalah meninggalkan ketergantungan pada kata, aksara, dan bahasa dan memulai pemahaman dengan hati.
Ø  Secara Harfiah, kata Zen merupakan bahasa Jepang dari Ch’an dalam bahasa Cina. Ch’an sendiri merupakan penyebutan Dhyana dalam bahasa Cina. Jadi Zen merupakan perkembangan dari sekte Dhyana di India. Dhyana berarti meditasi.
Ø  Zen Buddhisme memfokuskan dirinya pada pencapaian pencerahan (Bodhi) melalui meditasi sebagaimana yang dilakukan oleh Siddharta Gautama. Zen meyakini bahwa setiap manusia memiliki sifat kebuddhaan alamiah atau potensi untuk mencapai pencerahan.
Ø  Tradisi meditasi atau dhyana yang berkembang adalah Yoga. Sang Buddha telah mempraktikkan Yoga selama 12 tahun setelah ia meninggalkan kehidupan duniawi. Faktanya, ia tidak menemukan apa-apa setelah mempraktikkan Yoga.
Ø  Pada dasarnya, sifat dasar yoga untuk meng-kontemplasikan spirit di satu poin tertentu yaitu:

Senin, 03 Juni 2013

Respap. Hinayana & Mahayana


Responding Paper ‘ Hinayana dan Mahayana
Oleh: Ika Wahyu Susanti/ PA/ 4/ B

ü  Hinayana adalah ajaran-ajaran asli dari Buddha Gautama dan kitab sucinya ialah Tipitaka yang terdiri dari Vinaya Pitaka, Sutta Pitaka dan Abhidamma Pitaka.
ü  Prinsip-prinsip pandangan dari ajarana Hinayana adalah mempertahankan kemurnian ajaran Buddha dan menjaga ajaran Buddha tidak terpengaruh oleh kebudayaan lain.
ü  Aliran ini tidak dapat menampung banyak orang untuk memperoleh kebahagiaan nirwana, karena dalam prinsip pandangannya menyatakan bahwa setiap orang bergantung pada usahanya sendiri dalam mencapai kebahagiaan abadi dengan tanpa adanya penolong dari dewa ataupun manusia Buddha. hal ini dapat dipahami dari arti kata Hinayana yaitu kendaraan kecil.
ü  Aliran ini disebut juga “Theravada” yang lebih jelas menggambarkan pendirian aliran tersebut, karena Theravada berarti “jalan orang-orang tua” [1]
ü  Para penganut Hinayana menitikberatkan meditasi untuk mencapai peneranga sempurna sebagai jalan yang terpendek untuk menyelami Dhamma dan mencapai pembebasan, Nibbana.
ü  Pokok ajarannya Hinayana mewujudkan suatu perkembangan yang logis dari dasar-dasar yang terdapat di dalama kitab-kitab kanonik.
ü  Ajaran Hinayana di ikhtisarkan secara umum, dapat dirumuskan demikian:

Respap. Nibbana


Responding paper Budhisme, “Nibbana”
Nama: Ika Wahyu Susanti/ 1111032100039/ PA/3/B
Nibbana adalah sebutan bahasa Pali dan Nirvana adalah bahasa Sansekerta.[1] Nibbana terdiri dari kata Ni yang artinya padam dan Vana berarti Jalinan atau Keinginan. Nibbana juga diterangkan sebagai pemadam api nafsu keinginan (Lobha), kebencian (Dosa), dan khayalan (Moha).
Bila semua bentuk keinginan dibasmi, daya kemampuan Kamma berhenti bekerja, dan seseorang mencapai Nibbana, terlepas dari lingkaran kelahiran dan kematian.[2] Nibbana bukanlah suatu ketiadaan, melainkan seseorang yang tidak dapat merasakan dengan panca indranya.
Pencapaian Nibbana di bagi menjadi 2 waktu, yaitu[3]:

Respap. Meditasi


Responding paper Budhisme, “Meditasi”
Nama: Ika Wahyu Susanti/ 1111032100039/ PA/3/B

Kata “meditasi” berasal dari bahasa Latin, meditatio, artinya hal bertafakur, hal merenungkan, memikirkan, mempertimbangkan atau latihan, pelajaran persiapan. Dalam Kamus Teologi meditasi adalah do’a batin, merenungkan Kitab Suci atau tema-tema rohani yang lain, bertujuan mencapai kesatuan dengan Allah dan memperoleh pemahaman atas kehendak Illahi.[1]
Meditasi adalah membiasakan diri agar senantiasa mempunyai sikap yang positif, realistis, dan konstruktif. Dengan bermeditasi kita akan dapat membangun kebiasaan baik dari pikiran kita. Meditasi dilakukan dengan pikiran, dengan meditasi kita akan dapat mengalihkan pandangan kita sedemikian rupa sehingga kita menjadi lebih berwelas asih, cinta kasih, dan kita mengerti tentang hakikat dari kenyataan hidup ini.[2]
Lima ciri ketenangan pertama (pathama jhana):

Respap. Kitab Suci Agama Budha


Responding paper Budhisme, “Kitab Suci Agama Buddha”
Nama: Ika Wahyu Susanti/ 1111032100039/ PA/3/B

Kitab-kitab agama Buddha yang ada, baik yang tersusun sistematis, dalam bentuk asli atau terjemahan, tertulis dalam bahasa Pali, Sansekerta, Tibet dan Cina serta dalam bahasa-bahasa lain dimana agama Buddha berkembang.
Kitab-kitab Tipitaka Pali adalah kitab yang tertua serta terlengkap. Kitab Tipitaka sebagai kitab suci agama Buddha tersusun ke dalam Vinaya Pitaka (peraturan),; Sutta Pitaka (Khotbah tetang ajaran); Abhidhamma Pitaka (Filsafat, etika dan metafisika).
Ajaran agama Buddha bersumber pada kitab Tripitaka yang merupakan kumpulan Khotbah, keterangan, perumpamaan dan percakapan yang pernah dilakukan sang Buddha dengan para siswa dan pengikutnya. Dengan demikian, isi kitab tersebut semuanya tidak berasal dari dari kata-kata sang Buddha sendiri melainkan juga kata-kata dan komentar-komentar dari para siswanya. Oleh para siswanya sumber ajaran tersebut dipilah menjadi tiga kelompok besar, yang dikenal dengan pitaka atau keranjang, yaitu Vinaya pitaka, Suttra pitaka, dan Abidharma pitaka.[1]

Respap. Aliran-Aliran Dalam Agama Budha


Reponding paper ‘ Aliran-Aliran Dalam Agama Budha ‘
Nama : Ika Wahyu Susanti/ 4/ PA/ B
§  Tantrayana, Mantrayana dan Vajrayana adalah sebuah sub sekte dari pada Mahayana, boleh dibilang Tantrayana adalah aspek esoteric dari Buddhism, (Vajrayana).
§  Berasal dari kosa kata Sanskrit "Vajra" yang berarti berlian dalam aspek kekuatannya, atau halilintar dalam aspek kedahsyatan dan kecepatannya, serta dari kata "yana" yang berarti wahana/kereta.
§  Kata "Tantra" sendiri berarti "Tenun" dalam bahasa Sansekerta, merujuk kepada prakteknya yang bertahap namun pasti, seperti tenun itu ibaratnya.
§  Tujuan akhir dari pada Vajrayana, ialah : Mencapai kesempurnaan dalam pencerahan dengan tubuh fisik kita saat ini di kehidupan ini juga tanpa harus menunggu hingga kalpa-kalpa yang tak terhitung .
§  Perkembangan Agama Budha terletak pada Tantrayana yang merupakan Fase ketiga dari perkembangan Agama Budha (fase pertama ialah Hinayana, dan fase kedua ialah Mayana). Fase ini mulai sekitar tahun 500 M. Dan berakhir sampai tahun 1.000 M.
§  Yang  menarik dalam fase ini adalah cosmical-soteriological (yang berhubungan dengan keselamatan). [1] sifat dasar dominan dari Tantrayana adalah occultism (kegaiban). Penekanan utama adalah penyesuan yang harmonis dengan cosmos dan pencapaian penerangan dengan mantra atau metode gaib. Bahasanya adalah kebanyakan Sansekerta atau Apabhramsa. Aliran Tantra Buddhist disebut juga Esoterik ( = Guhya Upadesa ) yang berarti secara rahasia, tersembunyi dan mistik, sedangkan aliran Buddhist lainnya disebut Exoterik ( = Vyakta Upadesa ) yang berarti sesuatu yang terbuka atau terlihat.
§  Bagi aliran Exoterik pelajarannya didasarkan pada Tripitaka dan untuk mencapai ke-Buddha-an adalah secara berangsur-angsur dan bertingkat. Bagi aliran Esoterik pencapaian ke-Buddha-an hanya dalam sekejap, melakukan upacara atau ritual (Vidhi ) merupakan peranan yang penting. Emapat tingkatan Tantra;