Selasa, 04 Juni 2013

Music of Zen Meditation

Relax - Buddhist Meditation Music - Zen Garden - Kokin Gumi - Da
New AGe - Chill Out - Lounge
Music




Sumber: https://www.youtube.com/watch?v=CR3dM-GlZK8

Kusinara

Kusinara merupakan tempat yang sangat bersejarah dalam agama Buddha disinilah Sang Guru Agung kita Buddha Gautama sang Tathagata mencapai Maha Parinirvana.




Kusinara merupakan tempat yang sangat bersejarah dalam agama Buddha disinilah Sang Guru Agung kita Buddha Gautama sang Tathagata mencapai Maha Parinirvana.



PERKEMBANGAN AGAMA BUDHA DI INDIA DAN LUAR INDIA

                           PERKEMBANGAN AGAMA BUDHA DI INDIA DAN LUAR INDIA

                                              India Pada Abad Kelima Setelah Sang Budha


                                                                Oleh: Ifa Nurafiqoh
Raja terakhir keturunan dinasti Maurya yang memerintah sisa-sisa kerajaan Asoka adalah Brhadrta, sekitar tahun 182 SM. Dibunuh oleh salah seorang jenderalnya, Pusyimitra Sunga, yang kemudian mendirikan dinasti Sunga.
Pusymitra adalah penganut agama Hindu dan dicatat oleh sejarah menjalankan upacara pengorbanan kuda sebagai dimuat dalam kitab Veda kuno. Pada masa pemerintahannya banyak para biksu yang menjadi korban meskipun agama Budha masih memiliki pusat di Bharhut. Seperti halnya dinasti Maurya, raja Pusymitra (183-147 SM) dan pengganti-penggantinya selain memerintah kerajaan dengan cara yang sama maka juga terdapat tendensi feodalisme yang memberikan landasan untuk perkembangan agama Hindu.

Kitab Suci Tipitaka Dalam Bahasa Indonesia

 
http://reina-megumi.blogspot.com/2011/10/download-gratis-kitab-suci-tripitaka.html
Sumber: http://puspitaati-buddhisme.blogspot.com/search/label/Kompilasi%20Kitab%20Tripitaka

Tipitaka

                                                               KITAB SUCI BUDDHA
                                                 Keyakinan Terhadap Kitab Suci (Tripitaka)
                                                                            Makalah
                            Disusun untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Matakuliah Buddhisme
                                                 Dosen Pembimbing: Dra. Hj. Siti Nadroh
                                                                             Oleh:
                                                       Rini Farida (1111 0321 000 57)

                                               JURUSAN PERBANDINGAN AGAMA
                                           FAKULTAS USHULUDDIN DAN FILSAFAT
                                             UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
                                                                              2013

A.     PENDAHULUAN

Dalam sebuah buku yang berjudul Wacana Buddha Dharma, Krishna Ananda Wijaya-Mukti mengutip sebuah ungkapan berikut:
  “Buddha Berkata, ‘ Ananda, barangkali ada diantra engkau semua yang berfikir: Berakhirlah kata-kata Guru, kita tidak mempunyai Guru Lagi. Tetapi Ananda, jangan engkau berpendapat begitu. Dharma dan Winaya yang telah aku ajarkan dan aku nyatakan bagimu semua, itulah yang akan menjadi Gurumu, apabila Aku sudah tidak ada lagi” (D. II, 154). Dharma dan Winaya tidak lain dari kitab suci agama Buddha, yang semula disampaikan secara lisan.
Begitu mendengar Buddha meninggal dunia, seorang biku yang bernama Subhadda Tua berkata kepada teman-temannya agar jangan berduka, karena mereka terbebas dari orang yang mengekang, sehingga dapat berbuat sesuka hati. Lalu biku Mahakassapa mengajak para biku untuk membacakan Dharma dan Vinaya sebelum terdesak oleh apa yang bukan Dharma dan Bukan Vinaya (Vin. 11, 284-285.)”
Sebagai pendahuluan, penulis menyampaikan Terimakasih yang mendalam kepada Ibunda Dra. Hj. Siti Nadroh selaku dosen pembimbing saya dalam matakuliah Buddhisme yang telah memberikan saya kesempatan untuk berpartisipasi menyusun makalah yang berjudul “Kitab Suci Agama Buddha Dan Sejarah Kodifikasinya” ini. Kemudian saya juga ingin menyampaikan terimakasih banyak kepada seluruh penulis buku yang telah banyak membantu saya dalam menyampaikan sedikit pengeahuan saya tentang Materi ini, sehingga saya dapat menyelesaikan Tugas saya selaku mahasiswi Perbandingan Agama di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Menyadari bahwa makalah yang berada dihaadapan pembaca ini masih terdapat banyak kekurangan, patut saya  ucapkan mohon maaf yang sedalam-dalamnya. Adapun segala bentuk kritik dan saran dari pembaca sangatlah berharga bagi saya sebagai pemula, karena itu sudikiranya pembaca dapat memakluminya.
Demikianlah Pendahuluan ini saya sampaikan, Harapan saya semoga Makalah yang sangat sederhana ini sedikit-banyaknya dapat bermanfaat untuk saya pribadi dan juga untuk segenap para pembaca.
Terimakasih.
                        Ciputat, 13 Maret 2013


                            Penyusun
B.     KITAB-KITAB AGAMA BUDDHA

The last Message of Budha
“When I am Gone, my teaching shall be your Master and Guide”
“My years are now full ripe; the life span left is short. I will soon have to leave you, you must be earnest. O monks, be mindful and of pure virtue! Whoever untiringly pursues the Teaching, will go beyond the cycle of birth and death and will make an end of suffering.”

“Bila saya telah pergi, ajaran saya akan menjadi Guru yang membimbing kalian”
“Tahun-tahun (umur) saya kini telah matang; waktu hidup saya tersisa sebentar lagi. Saya akan segera merealisasikan Parinibbana. Kalian harus bersungguh-sungguh . Wahai para bikkhu, jagalah batin dan kebajikan suci! Siapapun yang tak kenal lelah menjalani Dhamma, akan keluar dari lingkaran kelahiran dan kematian dan akan mengakhiri Dukha.”

Sejarah Lima Aliran Buddha Tibet dan Bon

                                 Sejarah Lima Aliran Buddha Tibet dan Bon: Sebuah Pengantar


                                                                    Oleh: Ati Puspita
Awalan
Mari tenang dengan memusatkan perhatian pada nafas. Jika cita kita amat terusik, kita boleh menghitung nafas – hela, hirup, satu; hela, hirup; dua – sampai sebelas sebanyak beberapa kali. Jika cita kita cenderung lebih tenang, tak perlu menghitung. Kita bisa memusatkan perhatian hanya pada kesan nafas masuk dan keluar dari hidung.
Lalu kita tegaskan kembali dorongan kita. Di Barat, motivasi tampaknya dipahami dengan makna ‘alasan-alasan kejiwaan dan perasaan untuk mengerjakan sesuatu’. Tapi bukan itu arti kata bahasa Tibet ‘ dun-pa. Maknanya lebih ke ‘tujuan’, hal yang ingin kita capai. Sasaran atau tujuan kita datang ke sini dan mendengarkan ceramah ini adalah untuk memperoleh gambar yang lebih jernih tentang Bon dan hubungannya dengan ajaran Buddha. Kita melakukannya supaya kita dapat mengikuti jalan manapun yang telah kita masuki, baik Bon ataupun Buddha, dengan lebih jernih dan tanpa pandangan picik. Ini supaya kita dapat mencurahkan perhatian pada jalan kerohanian untuk mencapai pencerahan agar bermanfaat bagi setiap orang. Kita tegaskan kembali tujuan ini.
Kemudian kita putuskan untuk sungguh-sungguh untuk mendengarkan dengan penuh perhatian. Persis seperti kita membuat keputusan serupa sebelum bermeditasi, hal itu penting pula dilakukan sebelum memulai kuliah, kerja, atau kegiatan apapun. Kita putuskan bahwa kalau perhatian kita melalak, kita akan bawa ia kembali dan kalau kita mengantuk kita akan mencoba membangunkan diri, agar kita dapat menyerap sepenuhnya manfaat dari hadir di sini. Kita putuskan itu dengan sungguh-sungguh.
Pendahuluan
Malam ini saya telah diminta untuk bicara tentang aliran Bon dan hubungannya dengan ajaran Buddha. Ketika Yang Mulia Dalai Lama bicara tentang aliran-aliran Tibet, beliau kerap mengacu pada lima aliran Tibet: Nyingma, Kagyu, Sakya, Gelug, dan Bon. Dari sudut pandang Yang Mulia, Bon punya tempat yang setara dengan empat silsilah Buddha Tibet. Yang Mulia berpikiran begitu lapang. Tidak setiap orang setuju dengan cara berpendirian semacam itu. Telah dan masih ada begitu banyak pikiran-pikiran aneh tentang Bon di antara para guru Buddha. Dalam sudut pandang ilmu kejiwaan Barat, ketika orang mencoba begitu keras untuk menekankan hal-hal positif dalam kepribadian mereka sebelum mereka betul-betul telah menyelesaikan segala perkara pada tataran yang mendalam, maka sisi bayangan diarahkan pada sosok musuh. “Kitalah orang baik yang berada di jalan murni yang benar dan merekalah yang jahat.” Sayangnya, para Bonpo (penganut Bon – penerj.) sejak dahulu telah menjadi sasaran pengkambing-hitaman ini dalam sejarah Tibet. Kita akan melihat alasan-alasan sejarawinya. Hal ini tentunya perlu dipahami dalam lingkung sejarah politis Tibet.

Sekte Jodo Shinsu

Sekte Jodo Shinsu Sebagai Pandangan Hidup Orang Jepang

 Oleh: Fahmi Dzilfikri
Bangsa Jepang merupakan bangsa yang kuat dan memiliki harga diri yang tinggi. Berikut ini rahasia dibalik Etos Kerja dan Budaya Kerja Bangsa Jepang
Masyarakat Jepang: masyarakat yang tidak peduli pada agama
Ini merupakan ciri-ciri khusus masyarakat Jepang dibandingkan dengan masyarakat Indonesia. Perbedaan yang paling besar antara masyarakat Jepang dengan Indonesia adalah masyarakat Jepang tidak peduli pada agama.
Dalam undang-undang dasar Jepang, pemerintah tidak boleh ikut campur dalam urusan agama. Dilarang keras memakai anggaran negara untuk hal-hal agama.

Dalam pasal 20 tertulis bahwa semua lembaga agama tidak boleh diberi hak istimewa dari negara dan tidak boleh melaksanakan kekuatan politik, negara dan instansinya tidak boleh melakukan kegiatan agama dan pendidikan agama tertentu. Dan dalam pasal 89 tertulis bahwa uang negara tidak boleh dipakai untuk lembaga agama. ?
Maka di Jepang tidak ada ruangan untuk sembahyang seperti mushala di instansi negara (termasuk sekolah), tidak ada Departmen Agama, tidak ada sekolah agama negara (seperti IAIN di Indonesia).
Menurut beberapa penelitian, sekitar 70% orang Jepang menjawab tidak memeluk agama. Terutama, pemuda Jepang sangat tidak peduli agama. (Pada tahun 1996, mahasiswa yang mempercayai agama tertentu hanya 7.6%).